Soeroso Dasar Merupakan dosen dan peneliti senior di Universitas Padjadjaran (UNPAD). Selain menjadi Ketua Ikatan Penulis dan Pemerhati Kependudukan dan KB (IPKB) Jawa Barat. Soeroso juga aktif sebagai konsultan tenaga kerja dan UMKM. Bahkan, dia sudah membina lebih dari 50 ribu UKM di Jawa Barat. Sementara malam harinya dihabiskan dengan menjadi penasehat Majelis Dzikir dan Doa Masjid Nurul Qolbi di Kota Bandung.

Sejarah panjang program
pembangunan kependudukan KB, dan pembangunan keluarga di negeri ini diwarnai
era pasang surut. Periode keemasan, termarginalkan, dan kini reposisi.
Perjalanan berharga itu hendaknya dijadikan pelajaran dan catatan. Hasil yang
kita nikmati hari ini merupakan buah yang pernah ditanam. Menata masalah
pembangunan memang sulit dan rumit. Masalahnya terkadang bukan pada manajemen
yang salah, tetapi lebih sering pada masalah dasarnya yakni pada desain
organisasi. Dalam sistem pemerintahan presidensial, maka arah pembangunan di
Indonesia sangat ditentukan oleh sejauhmana para
pembantu presiden – dalam hal
ini para menteri – mampu merumuskan kebijakan pembangunan itu sendiri.
pembantu presiden – dalam hal
ini para menteri – mampu merumuskan kebijakan pembangunan itu sendiri.
Lalu, bagaimana dengan lembaga
pemerintah yang menangani kependudukan dan KB di Indonesia? Sejauh ini motor
penggerak utama ada pada sebuah lembaga negara nonkementerian, Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Nomenklatur ini boleh
dibilang tidak pro-KB, apalagi bila digandengkan dengan kependudukan dan
pembangunan keluarga. Hierarki birokrasi yang teramat panjang untuk sampai ke
meja presiden menjadikan program KB tetap termaginalkan dalam kata kelola
pemerintahan.
Padahal, Undang-undang Nommor 52 tahun 2009 tentang Perkembangan
Kependudukan dan Pembangunan sebagai titik sentral kegiatan pembangunan (people – centered development). Dengan
begitu, penting dilakukan integrasi kebijakan kependudukan ke dalam pembangunan
sosial budaya, ekonomi, dan lingkungan hidup. Nah, buku ini merupakan catatan
kritis atas karut-marutnya pembangunan kependudukan, KB dan pembangunan
keluarga di Indonesia. Soeroso Dasar mengajak kita mengingat kembali ketitik
senteral itu. Kali ini dengan mendorong dihadirkannya kembali Menteri
Kependudukan dalam kabinet pemerintahan.

No comments:
Post a Comment