Ciamis (Lawunews.Com)
Iklim yang tidak menentu akhir-akhir ini membuat 1.061 hektar area pesawahan di beberapa Desa di wilayah Kecamatan yang tersebar di Kabupaten Ciamis mengalami kekeringan. Kekeringan itu tersebar di 18 Kecamatan di wiilayah Kabupaten Ciamis. Yang paling parah terjadi di Kecamatan Purwadadi, Kecamatan Lakbok, Kecamatan Cijeungjing, Kecamatan Cipaku, Kecamatan Sindangkasih, Kecamatan Panumbangan, Kecamatan Lumbung dan Kecamatan Rancah. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Ciamis, Ir. Kustini, MP melalui Kepala Bidang Produksi Serelia dan Palawija, Ir. Ma’mun didampingi Kepala Seksi Produksi Serelia Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Ciamis, Kisma beberapa lalu mengatakan, penyebab kekeringan di Ciamis itu adalah iklim yang tidak menentu dan penggunaan pupuk yang tidak sesuai sehingga serapan air kedalam tanah lebih cepat. “Tetapi kekeringan yang terjadi di Kabupaten Ciamis ini masih dalam tingkatan ringan masih bisa disiasati dan belum mengalami puso dan beruntung di Kabupaten Ciamis kebanyakan petani memanen padinya sebelum kemarau melanda, sehingga tidak terlalu banyak yang fuso, “kata Ma’mun.
Dikatakan Ma’mun di Kabupaten Ciamis ada 1.061 hektar sawah yang terancam kekeringan. Salah satu upaya untuk menanggulangi dengan menyiram padi dibantu dengan pompa air atau dengan membuat sumur di area pesawahan. “Cara-cara antisipasi bisa dilakukan jika stok air di sungai masih ada, begitu juga dengan pembuatan sumur diarea pesawahan, “ucap Ma’mun. Ma’mun menambahkan, sudah menginjak ke 2 bulan ini terjadi iklim yang tidak menentu seperti ini, saat ini memasuki bulan Oktober namun masih dalam musim kemarau. “Disini harus ada kecepatan tanggap dari masing-masing petani untuk mengantisipasi seperti kemarau sekarang, iklim saat ini sudah tidak bisa diprediksi oleh perhitungan bulan, “ucap Ma’mun. Pemerintah Kabupaten Ciamis dalam hal ini Dinas Pertanian Tanaman Pangan, tambah Kepala Seksi Produksi Serelia Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Ciamis, Kisma, dalam rangka antisipasi penanganan bencana kekeringan menyebarkan surat kepada para Kepala UPTD PP se-Kabupaten Ciamis dan Kepala BP3K se-Kabupaten Ciamis dengan tembusan kepada Bupati Ciamis, Kepala BP4KKP Kabupaten Ciamis dan para Camat se-Kabupaten Ciamis yang didalamnya memuat berdasarkan surat yang dikeluarkan oleh Balitbangtan Kementerian RI yang menyatakan bahwa prakiraan curah hujan dan sifat hujan di Kabupaten Ciamis rata-rata bawah normal.
Atas dasar edaran yang dikeluarkan oleh Balitbangtan Kementerian RI tersebut, tandas Kisma, pihaknya memohon kepada para Kepala UPTD PP dan para Kepala BP3K se-Kabupaten Ciamis untuk melakukan langkah-langkah diantaranya menyelamatkan tanaman padi yang sudah ada (standing crop) dengan memanfaatkan pompa air dari sumber air/potensi air yang tersedia, memanfaatkan embung, pengaturan air dengan cara gilir giring dan memanfaatkan air buangan. Penanaman tanaman pengganti yang lebih toleran terhadap kekeringan seperti tanaman palawija dan sayur-sayuran, mengadakan rapat koordinasi tentang penyusunan jadwal tanam sesuai dengan kondisi daerah masing-masing. Percepatan pembuatan persemeian dan gerakan pengolahan tanah bagi daerah yang terjamin pengairannya, pembersihan dan perbaikan jaringan irigasi, saluran air dan pembersihan galenga/pematang serta memanfaatkanya. Menginpentarisir dan menyiapkan alat/ sarana penhlahan tanah (traktor, ternak) secara efektif dan efisin. Serta menginpentarisasi kekeringan dan membuat laporan kekeringan dengan dikoordinasikan bersama POPT setempat, papar kisma.
Tidak Serius
Kekeringan yang sudah menginjak hampir dua bulan yang membuat kelabakan bukan hanya para petani saja pada umumnya para warga yang sudah mulai kesulitan dalam mengkonsumsi air bersih. Pasalnya, sumur-sumur mulai mengalami kekeringan kalaupun ada air, airnya kotor serta areal pesawahan pun mulai retak-retak. Tanaman padi banyak yang mati karena lama tidak disiram air sehingga terancam puso atau gagal panen. Bukan hanya para petani yang was-was menghadapi musim kemarau ini, para peternak pun demikian. Mereka kini kesulitan mencari pakan ternak khususnya untuk ternak sapi, kambing, dan sejenisnya karena rumput sebagai makanan utama pakan ternak banyak yang mengering. Terpaksa para peternak mencari pakan ternak ke tempat yang agak jauh yang masih terdapat rumput segar.
Musim kemarau memang bikin semua orang kelimpungan. Pasalnya, pada musim itu air yang menjadi sumber kehidupan sangat sulit didapat. Inisiator Forum Ciamis Bersatu yang merupakan Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Gempur, Saeppudin, SH, MH, mengemukakan pendapatnya. Menurutnya, kekeringan yang melanda sejumlah lahan pertanian di Kabupaten Ciamis selain terjadi akibat ulah manusia juga akibat kurang seriusnya Pemkab Ciamis dalam melaksanakan program pembangunan infrastruktur. Contohnya, ketidakseriusan dalam program infrastruktur irigasi, dimana pemerintah tidak melakukan pembangunan dengan menyelaraskan antara hulu dan hilir. “Pembangunan infrastruktur irigasi terus dilakukan Pemkab Ciamis dalam hal ini Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Dinas Bina Marga Sumber Daya Air, Energi dan Sumber Daya Mineral namun tidak dibarengi dengan pemeliharaan yang baik antara saluran dan sumber mata airnya, “tegas Aep.
Menurutnya, banyak irigasi yang dibangun, namun setelah dibangun dibiarkan telantar karena tidak dikelola secara maksimal. Selain itu, perlu adanya rehabilitasi lahan-lahan kritis untuk jangka panjang. Artinya, Pemkab Ciamis harus melakukan pembangunan, pemeliharaan dan perbaikan lingkungan secara maksimal agar tak terjadi masalah kekeringan seperti saat ini yang menimpa para petani. Atas dasar itu pemerintah Kabupaten Ciamis harus benar-benar serius menyikapi musim kemarau, semisal dengan menyiapkan dengan menyiapkan dana penanggulangan kekeringan guna membangun sarana pengairan sekaligus juga menyiapkan biaya pemeliharaannya, kemudian melakukan rehabilitasi lahan kritis sehingga dengan upaya itu kekeringan yangs sering melanda dan membuat repot masyarakat tidak terus terjadi setiap tahun. (Mamay)

No comments:
Post a Comment