Thursday, November 20, 2014

Disdikbud Kabupaten Ciamis Gencar Melakukan Pendataan Terhadap Pelaku Seni

Ciamis (Lawunews.Com) 
Kabupaten Ciamis kaya dengan ragam aneka seni dari mulai sendra tari, jaipong, calung, penca, tarling, wayang landung dan berbagai atraksi lainnya yang memberikan hiburan tersendiri bagi masyarakat yang menyaksikannya. Namun yang menjadi daya tarik tersendiri saat ini adalah salah satu kesenian ciri khas di Kecamatan Sukamantri adalah bebegig. Bebegig meskipun seram, rambut gimbalnya yang tersusun dari bunga rotan yang disebut bubuai itu menyiratkan kecintaan pada alam semesta. Dalam bunga-bunga itu masih tersimpan ribuan benih rotan. Jika pemilik wajahnya berjalan dan menggerak-gerakkan rambutnya, ia bagaikan kupu-kupu yang mengisap sari bunga dan menebarkannya ke daerah lain. Itu sebabnya, rambut lelaki seram itu tak pernah diganti ijuk atau benda lain karena dari rambut itulah ia menyimpan rahasianya menjaga alam.  Wajah seram itu adalah bebegig milik masyarakat Desa Cempaka, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis. Hingga kini masyarakat di bagian utara Ciamis masih menggunakan bebegig untuk memeriahkan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan beberapa kegiatan hari besar lainnya. 

Para pembuat kedok atau topeng bebegig pergi ke makam untuk menemukan suasana seram. Pengguna akan menyimpan kedok bebegig di makam hingga tiga hari. Dari pemakaman umum itu ratusan orang keluar dan berarak-arak keliling desa. Bebegig akan ditinggalkan di makam khusus setelah acara selesai. Masyarakat Desa Cempaka meyakini bebegig merupakan perlambang kemenangan. Sebab, pembuatan bebegig diilhami wajah Prabu Sampulur. Ia memusnahkan kejahatan dan meminta imbalan untuk menguasai Pulau Jawa. Kemenangannya dikenang dengan membuat kedok seperti wajahnya. Hal tersebut diutarakan pembina bebegig, Cucu sewaktu disambangi tim Media Bangsa disanggarnya yang beralamat di Sukamantri Panjalu. Menurutnya, seni tradisi ini spektakuler karena melibatkan banyak orang untuk arak-arakan. Selain itu, masyarakat dari muda hingga tua mau mengeluarkan uang sendiri sekitar Rp 250.000 untuk membeli bebegig. Itu sebabnya, tradisi khas Ciamis ini diangkat oleh para pembina kesenian dari STSI Bandung. Cucu mengatakan, seni bebegig kemudian diambil untuk melengkapi penciptaan seni baru Ciamis, yaitu ngarumat atau memelihara. Dalam seni ngarumat yang diciptakan selama delapan bulan pada tahun 2006 tersebut seni bebegig yang hanya diiringi musik kelotok, aksesori yang dikalungkan pada kerbau dan sapi, kemudian ditambah beduk marung dari Desa Buniseuri, Kecamatan Cipaku, Ciamis, sehingga kemudian disebut dugig atau beduk dan bebegig. 

Antisipasi Kepunahan
Ditempat berbeda Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ciamis melalui Kasi Pembinaan Kesenian dan Perfilman Disdikbud, H. Dedi Kusmana, S.Pd membenarkan keberadaan “Bebegig” diwilayah Kecamatan Sukamantri. Menurutnya, bebegig penuh nuansa magis. Hasil pengamatannya, berdasarkan pengakurasian data yang saat ini tengah gencar dilakukan pihaknya terhadap sanggar-sanggar/group seni dalam mengantisipasi kepunahan salah satunya keberadaan bebegig. “Bebegig, selain selalu muncul setiap Agustusan, bebegig Sukamantri ternyata sering melanglang Nusantara bahkan mancanegara. Dari tahun ke tahun, “populasi” dan popularitas bebegig di desa ini semakin banyak. Maksudnya, generasi penerus di kalangan anak-anak kecil kini banyak yang ingin mengenakan bebegig saat ikut upacara Agustusan.  Begitu pula tidak sedikit penonton yang sengaja menyempatkan diri berfoto bersama dengan bebegig. “Untuk kenang-kenangan. “Atas dasar inilah pihak Disdikbud dalam hal ini bidang kebudayaan terinspirasi untuk membuat suatu hasil karya seni kriya untuk membuat bentuk souvenir/cendramata yang menjadi ciri khas Sukamantri. Selain untuk melestarikan bebegig sendiri supaya tidak punah, hasil cendramata yang bisa dijual ini tentunya bisa membiayai operasional bebegig itu sendiri terutama bisa meningkatkan kesejahteraan para pelaku bebegig, “tegas H. Dedy.

Saya baru tahu di sini ada kreasi warga seperti ini. Menyeramkan tapi mengasyikkan juga, ya?,  kata Deasy Cendani (20), gadis warga Jakarta yang sengaja ikut dengan temannya warga asli Sukamantri untuk melihat dan merasakan suasana Agustusan di pedesaan. Demikian juga pengguna jalan yang kebetulan lewat Sukamantri, banyak yang menghentikan kendaraannya saat melihat bebegig. Mereka lantas merekamnya dengan kamera HP atau dengan kamera saku. “Saya dengar bebegig di Sukamantri munculnya hanya saat Agustusan. Jadi saya merekamnya,” kata Andri, warga Bandung sambil tak henti-hentinya mengarahkan kameranya ke bebegig yang lewat di depannya. (Mamay)

No comments:

Koprasi Warga Cimahi Mandiri Menggelar RAT Tepat Waktu

Cimahi (LawuPost)  Koperasi yang sehat dan baik adalah Koperasi yang mampu melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) tepat waktu, dan Rap...