Seperti telah diuraikan dalam edisi bulan Agustus
bahwa untuk penanganan penyakit hipertensi bisa dilakukan secara farmakologis
dan nonfarmakologis. Salah satu dari penanganan nonfarmakologis dalam
menyembuhkan penyakit hipertensi yaitu terapi komplementer. Terapi komplementer
bersifat terapi pengobatan alamiah diantaranya adalah dengan terapi herbal,
terapi nutrisi, relaksasi progresif, meditasi, terapi tawa, akupuntur,
akupresur, aromaterapi, terapi bach
flower remedy, dan refleksiologi (Sustrani, dkk, 2006). Terapi herbal banyak
digunakan oleh masyarakat dalam menangani penyakit hipertensi dikarenakan
memiliki efek samping yang minimal. Jenis obat yang digunakan dalam terapi
herbal yaitu seledri atau celery (Apium
graveolens), bawang putih atau garlic
(Allium Sativum), bawang merah atau onion (Allium cepa), tomat (Lyocopercison
lycopersicum), semangka (Citrullus
vulgaris) (Sustrani, dkk, 2006).
Seledri atau celery (Apium graveolens) merupakan salah satu
dari jenis terapi herbal untuk menangani penyakit hipertensi.Seledri mengandungapigeninyang sangat bermanfaat untuk
mencegah penyempitan pembuluh darah dan tekanan darah tinggi. Selain itu,
seledri juga mengandung pthalides dan
magnesium yang baik untuk membantu melemaskan otot-otot sekitar pembuluh darah
arteri dan membantu menormalkan penyempitan pembuluh darah arteri.Pthalides dapat mereduksi hormon stres
(katekolamin) yang dapat meningkatkan tekanan darah. Selain mengandung apigenin dan pthalides seledri juga mengandung gizi yang tinggi, vitamin A, B1,
B2, B6 dan juga vitamin C. Seledri juga kaya pasokan kalium, asam folic,
kalsium, magnesium, zat besi, fosfor, sodium dan banyak mengandung asam amino
esensial (Afifah, 2009).
Dari hasil penelitian
yang dilakukan oleh Evi (2010), tentang pengaruh pemberian rebusan seledri
terhadap penurunan tekanan darah di wilayah kerja puskesmas Purworedjo,
didapatkan hasil terjadi penurunan tekanan sistolik sebesar 41,462 mmHg,
danterdapat perbedaan rata-rata sebelum dan sesudah pemberian rebusan seledri
pada tekanan diastolik sebesar 16,615 mmHg.
Penelitian diatas
didukung juga dengan hasil penelitian Khumalasari (2012) tentang Pengaruh
Seledri terhadap Penuruanan Tekanan Darah Padalansia dengan Hipertensi di Panti
Werdha Karitas Cimahi.Penelitian dilakukan terhadap 30 orang lansia yang
memiliki tekanan darah tinggi.
Pada saat penelitian
sebelumnya peneliti membuat olahan seledri terlebih dahulu dengan dosis 10
gram, dicampur 100 cc air. Seledri di timbang lalu dipotong-potong. Potongan
seledri dimasukan kedalam air panas. Kemudian diberikan kepada lansia 2 kali
sehari 2 sendok makan pada pukul 9 pagi dan 4 sore.
Sebelum
dilakukan pemberian seledri pada responden, responden terlebih dahulu di ukur
tekanan darahnya pada pagi hari untuk mengetahui hasil tekanan darah pre-test. (sebelum) Pretest pada penelitian ini dilakukan pada jam
8 pagi. Kemudian diberikan terapi seledri 2 kali sehari sebanyak 2 sendok makan
persekali pemberian. Seledri diberikan setiap jam 9 pagi dan jam 4 sore.
Setelah pemberian 2 kali seledri pada jam 5 sore dilakukan kembali pengukuran
tekanan darah untuk mengetahui hasil
tekanan Post-test.(Sesudah) .
Dari
hasilPenelitiandilakukanterhadap30 orang
Lansia yang memiliki tekanan darah tinggi.
Hasilnya menujukkan :
1. Tekanan darah
sistolik pada penderita hipertensi sebelum pemberian seledri rata-ratanya
adalah 175.33 mmHg, tekanan darah sistolik minimal 150 mmHg, tekanan darah
maksimal 210 mmHg. Tekanan darah diastolik rata-ratanya adalah 97 mmHg, tekanan
darah minimal 80 mmHg, tekanan darah maksimal 120 mmHg.
2. Tekanan darah
sistolik pada penderita hipertensi sesudah pemberian seledri rata-ratanya adalah 157.90 mmHg,
tekanan darah minimal 140 mmHg, tekanan darah maksimal 190 mmHg. Tekanan darah
diastolik rata – ratanya adalah 88.7 mmHg, tekanan darah minimal 707mmHg,
tekanan darah maksimal 103 mmHg.
3. Ada perbedaan rata-rata sebelum dan
sesudah pemberian seledri pada tekanan
sistolik sebesar 17.433 mmHg. Sedangkan perbedaan rata-rata sebelum dan
sesudah) pada tekanan diastolik sebesar 8.933 mmHg. Sehingga dapat disimpukan
ternyata ada perbedaan yang bermakna antara tekanan darah sebelum dan sesudah
pemberian seledri.
Setiawati, S.Kp., M.Kep.
Dosen Ilmu Keperawatan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Jenderal Achmad Yani Cimahi

No comments:
Post a Comment