Makassar (LawuNews) Di tiga kabupaten Mitra USAID PRIORITAS, yaitu Maros, Bantaeng dan Wajo, USAID PRIORITAS berusaha membangun sekolah-sekolah percontohan atau model untuk tingkat SD, MI, SMP dan MTs. Masing-masing jenis sekolah diwakili oleh satu sekolah yang terpilih dari beberapa sekolah yang dinominasikan.

Untuk meningkatkan kapasitas para pendidik di calon sekolah-sekolah percontohan tersebut, USAID PRIORITAS mengadakan kegiatan Provincial Workshop for Good Practice School di Hotel Santika yang berlangsung tiga hari (15-17 Maret 2015). Kegiatan dihadiri oleh 72 orang
pendidik dari 12 sekolah yang terpilih dari tiga kabupaten tersebut.
“Workhop ini lebih menekankan peningkatan kemampuan mengajar para guru, baik dari segi konten maupun metodologi membawakannya,” ujar Nensilianti, penanggung jawab program disela-sela acara (17/3/2015).
Para peserta dilatih dan ditingkatkan pemahaman, dan keterampilannya dalam membangun kebiasaan literasi, strategi manajemen pembelajaran, pemanfaatan media pembelajaran, dan pengajaran efektif yang menggunakan pendekatan saintifik, dan penilaian portofolio.
Mereka juga difasilitasi membuat rencana pembelajaran yang mengembangkan salah satu konten/ide pembelajaran yang terdapat dalam bahan materi yang dipersiapkan khusus untuk sekolah percontohan dan melaksanakannya dalam bentuk Peer Teaching.
“Banyak pengetahuan dan ketrampilan baru saya dapat, terutama bagaimana membuat anak-anak mampu menemukan sendiri pengetahuan, bukan cuma dicokok ilmu,” ujar Alimuddin, salah satu pengawas sekolah dan peserta dari Kabupaten Maros.
“Metodenya kita ubah dari metode deduktif menjadi induktif, yaitu kalau dulu anak anak diberikan dulu semua ilmu, diceramahkan detil-detilnya, sekarang ini mereka diberikan atau mencari sendiri bahan-bahan pembelajarannya dan difasilitasi belajar menggunakan metode lima M yaitu mengamati, menanya, menalar, menangasosiasikan, dan mengkomunikasikan. Pelatihan ini membuat kita mengetahui bagaimana menerapkannya secara detail dalam pembelajaran,” ujarnya lebih lanjut.
Guru-guru sekolah dasar, terutama kelas awal, dilatih secara intensif untuk menggunakan Big Book, yaitu sebuah buku besar berukuran 30 x 40, yang dibuat sendiri oleh pendidik berdasarkan rancangan pembelajaran yang akan dibawakan. Buku besar tersebut bergambar dan bertuliskan indah yang menarik bagi anak-anak kelas awal yang masih visual. “Kita juga dikuatkan dalam penggunaan big book, terutama menyangkut perancangannya, pembuatannya dan pemanfaatannya. Ini merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan literasi anak-anak yang masih kurang di Indonesia,” ujar Ruslan, Kepala Sekolah SD Muhammadiyah, salah satu peserta pelatihan ini. (red)

Untuk meningkatkan kapasitas para pendidik di calon sekolah-sekolah percontohan tersebut, USAID PRIORITAS mengadakan kegiatan Provincial Workshop for Good Practice School di Hotel Santika yang berlangsung tiga hari (15-17 Maret 2015). Kegiatan dihadiri oleh 72 orang
pendidik dari 12 sekolah yang terpilih dari tiga kabupaten tersebut.“Workhop ini lebih menekankan peningkatan kemampuan mengajar para guru, baik dari segi konten maupun metodologi membawakannya,” ujar Nensilianti, penanggung jawab program disela-sela acara (17/3/2015).
Para peserta dilatih dan ditingkatkan pemahaman, dan keterampilannya dalam membangun kebiasaan literasi, strategi manajemen pembelajaran, pemanfaatan media pembelajaran, dan pengajaran efektif yang menggunakan pendekatan saintifik, dan penilaian portofolio.
Mereka juga difasilitasi membuat rencana pembelajaran yang mengembangkan salah satu konten/ide pembelajaran yang terdapat dalam bahan materi yang dipersiapkan khusus untuk sekolah percontohan dan melaksanakannya dalam bentuk Peer Teaching.
“Banyak pengetahuan dan ketrampilan baru saya dapat, terutama bagaimana membuat anak-anak mampu menemukan sendiri pengetahuan, bukan cuma dicokok ilmu,” ujar Alimuddin, salah satu pengawas sekolah dan peserta dari Kabupaten Maros.
“Metodenya kita ubah dari metode deduktif menjadi induktif, yaitu kalau dulu anak anak diberikan dulu semua ilmu, diceramahkan detil-detilnya, sekarang ini mereka diberikan atau mencari sendiri bahan-bahan pembelajarannya dan difasilitasi belajar menggunakan metode lima M yaitu mengamati, menanya, menalar, menangasosiasikan, dan mengkomunikasikan. Pelatihan ini membuat kita mengetahui bagaimana menerapkannya secara detail dalam pembelajaran,” ujarnya lebih lanjut.
Guru-guru sekolah dasar, terutama kelas awal, dilatih secara intensif untuk menggunakan Big Book, yaitu sebuah buku besar berukuran 30 x 40, yang dibuat sendiri oleh pendidik berdasarkan rancangan pembelajaran yang akan dibawakan. Buku besar tersebut bergambar dan bertuliskan indah yang menarik bagi anak-anak kelas awal yang masih visual. “Kita juga dikuatkan dalam penggunaan big book, terutama menyangkut perancangannya, pembuatannya dan pemanfaatannya. Ini merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan literasi anak-anak yang masih kurang di Indonesia,” ujar Ruslan, Kepala Sekolah SD Muhammadiyah, salah satu peserta pelatihan ini. (red)

No comments:
Post a Comment