Ciamis (Lawunews.Com)
Akibat nilai rupiah yang terus melemah semenjak beberapa pekan terakhir dan menembus angka hampir Rp 12.000, maka kondisi ini diprediksi bakal berimbas pada sejumlah sektor perekonomian di tanah air.
Salah satu sektor ekonomi rakyat semacam industri pembuatan tahu dan tempe, diketahui sampai kini hampir 60 persen kebutuhan kedelai nasional masih dipasok dari Brazil dan Amerika, sehingga sangat tergantung pada kurs rupiah terhadap dollar Amerika.
Menurut Kepala Dinas Perindustrian Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kabupaten Ciamis, Dra. Hj. Yeyet Trisnawati T, berdasarkan pemantauan di lapangan, harga kedelai impor kini mencapai Rp 12.000/kg. Kondisi tersebut jelas bakal mempengaruhi produktivitas para pengrajin tahu dan tempe yang mempergunakan bahan baku utama kacang kedelai impor.
“Kami khawatir akibat nilai tukar rupiah yang terus melemah ini bakal memukul sektor industri tahu dan tempe. Pasalnya, harga kedelai impor terus meroket makin mahal, bahkan telah mencapai Rp 12.000 per kilogram.
Jika terus begini tidak mustahil bakal menghentikan produksi, “terang dia.
Dengan kenaikan harga kedelai impor yang cukup tinggi para pengrajin tahu dan tempe dituntut untuk terus berproduksi. Pasalnya, konsumen dipastikan selalu mencari lauk panganan khas Indonesia ini. Meski diakui setiap terjadi kenaikan harga kedelai impor membuat pengrajin selalu merugi karena harga jual tahu tempe tidak bisa langsung dinaikan begitu saja.
Guna menyiasati kenaikan harga kedelai, para pengrajin terpaksa mengurangi ukuran tempenya, sehingga harga masih bisa dipertahankan seperti semula.
Terus menguatnya nilai tukar Dollar AS terhadap rupiah yang mencapai Rp 12 ribu per 1 Dollar AS, sangat berdampak pada pengusaha tahu dan tempe Kabupaten Ciamis. Karena akibat melemahnya rupiah, harga kedelai pun menjadi mahal. Dampaknya, biaya produksi untuk membuat tahu dan tempe menjadi bengkak. Untuk menyiasati agar para pengusaha tidak terlalu rugi, mereka terpaksa memperkecil ukuran tahu dan tempe yang mereka produksi.
“Dengan tingginya nilai tukar dollar, otomatis harga barang-barang impor menjadi naik, termasuk kedelai. Ini tentu sangat mereptkan kami sehingga kami terpaksa memperkecil tahu yang kami buat, “kata Mas Udin (45), salah seorang pengrajin tempe di lingkungan Cibitung Hilir Kelurahan Kertasari Kecamatan Ciamis Kabupaten Ciamis.
Udin mengatakan, sebelumnya harga kedelai impor, hanya Rp 8.350/kg. Namun kini, harganya sudah mulai naik menjadi Rp 9000/kg sehingga sangat memberatkan para pengrajin. Di sisi lain, kata dia, pengrajin sulit untuk menaikan harga tempe.
“Karena jika harga naik, pembeli akan protes. Dampaknya, mereka enggan membeli tempe karena mahal. Sedangkan kalau terus bertahan dengan harga yang lama, sudah pasti kami akan rugi, “kata dia.
Oleh karena itu, untuk menyiasati agar tidak terlalu rugi, tuturnya, terpaksa ukuran tempe diperkecil. Dia menerangkan, kalau dulu 12 kilogram kedelai dibuat menjadi 4 cetakan tempe, tapi kini terpaksa dibuat menjadi 5 cetakan.
Keluhan senada juga diungkapkan pengrajin tahu di Kampung Cisadap Desa Cisadap Kecamatan/Kabupaten Ciamis, Hasan (42). Menurutnya, kenaikan harga kedelai sudah terjadi sejak lama, tepatnya sejak bulan ramadhan lalu.
Diakuinya, dirinya akhir-akhir ini bukan hanya memperkecil ukuran tahu yang diproduksinya namun juga sudah mulai mengurangi produksi. Hal ini terpaksa dilakukan untuk menghindari kerugian yang terlalu besar.
Jika sebelumnya dia memprduksi tahu antara 4-5 kuintal/hari, saat ini produksinya hanya tinggal 2 kuintal saja. (Mamay/Dian)

No comments:
Post a Comment