Makassar (LawuNews)Semenjak diselenggarakan pelatihan modul II Manajemen Berbasis Sekolah di beberapa Kabupaten kohor I dan II mitra USAID PRIORITAS (Bone, Wajo, Maros dll) dan Kabupaten Ex-DBE USAID, maka sekolah-sekolah mitra di daerah tersebut mulai banyak melakukan inovasi-inovasi budayakan membaca untuk warga sekolah.
“Inovasi budaya baca banyak dilakukan di sekolah-sekolah,” ujar Jamaruddin, Koordinator Provinsi USAID PRIORITAS di kantornya di Jalan Salemba Sulsel (17/2/2015).
Salah satu konten Modul II USAID PRIORITAS adalah menumbuhkan budaya baca di kalangan warga sekolah. Dengan modul II, kepala sekolah, guru, komite maupun pengawas, difasilitasi untuk merencanakan berbagai strategi menumbuhkan minat baca di sekolah. Mereka sendiri yang merancang strategi tersebut berdasarkan kondisi sekolahnya sendiri. Strategi dibagi dua, strategi pengadaaan sarana prasarana membaca, dan strategi kegiatan membacanya sendiri.
Untuk strategi pengadaan sarana-prasarana, sekolah-sekolah yang kurang memiliki dana umpamanya, bisa melakukan strategi pengumpulan buku lewat sumbangan dari luar, baik dari orang tua siswa, perusahaan atau dari sumber lain. Kepala sekolah juga bisa mengumpulkan komite dan orang tua berembug bagaimana membuat taman baca yang menarik bagi para siswa sehingga siswa betah membaca. Dari berbagai strategi yang dikembangkan, sekolah-sekolah telah banyak melakukan inovasi-inovasi pembuatan sarana prasarana membaca. Sekolah Dasar Kompleks IKIP Makassar umpamanya, membuat pohon baca yaitu semacam taman baca di bawah pohon.
“Inovasi budaya baca banyak dilakukan di sekolah-sekolah,” ujar Jamaruddin, Koordinator Provinsi USAID PRIORITAS di kantornya di Jalan Salemba Sulsel (17/2/2015). Salah satu konten Modul II USAID PRIORITAS adalah menumbuhkan budaya baca di kalangan warga sekolah. Dengan modul II, kepala sekolah, guru, komite maupun pengawas, difasilitasi untuk merencanakan berbagai strategi menumbuhkan minat baca di sekolah. Mereka sendiri yang merancang strategi tersebut berdasarkan kondisi sekolahnya sendiri. Strategi dibagi dua, strategi pengadaaan sarana prasarana membaca, dan strategi kegiatan membacanya sendiri.
Untuk strategi pengadaan sarana-prasarana, sekolah-sekolah yang kurang memiliki dana umpamanya, bisa melakukan strategi pengumpulan buku lewat sumbangan dari luar, baik dari orang tua siswa, perusahaan atau dari sumber lain. Kepala sekolah juga bisa mengumpulkan komite dan orang tua berembug bagaimana membuat taman baca yang menarik bagi para siswa sehingga siswa betah membaca. Dari berbagai strategi yang dikembangkan, sekolah-sekolah telah banyak melakukan inovasi-inovasi pembuatan sarana prasarana membaca. Sekolah Dasar Kompleks IKIP Makassar umpamanya, membuat pohon baca yaitu semacam taman baca di bawah pohon.
Mereka juga membuat dinding baca, yaitu di setiap dinding luar masing-masing kelas dipasang paralon tempat buku-buku bacaan. Anak-anak sering memanfaatkan waktu istirahat untuk membaca disitu. Terakhir mereka membuat Warung baca, tempat membaca bagi pengantar atau orang tua siswa. Buku-buku di sekolah ini kebanyakan dari orang tua siswa yang meminjamkan bukunya ke sekolah, dan akan diambil setelah satu tahun peminjaman. Masih banyak inovasi-inovasi lain dibuat oleh sekolah-sekolah mitra USAID PRIORITAS.
Selain strategi pengadaan sarana prasarana baca, Strategi lainnya adalah menciptakan kegiatan membaca yang menarik bagi siswa. Beberapa sekolah seperti SDN 39 Kassi Maros mencanangkan 5 – 10 menit membaca sebelum pelajaran pagi dimulai. Sekolah SMP YP PGRI, membuat lomba tulisan resensi buku-buku yang telah dibaca. Sedangkan SDN 2 Unggulan Maros, anak-anak membuat cerita sendiri dari rangkaian buku cerita yang telah dibuatnya. Banyak sekolah sekarang ini mengembangkan strategi membaca senyap, yaitu semua warga sekolah tak terkecuali guru, orang tua dan pegawai, membaca buku dengan diam selama 30 menit.
“Budaya baca perlu dikembangkan karena ketrampilan literasi menentukan masa depan siswa. Semakin tinggi litersi siswa, semakin besar peluang masa depannya cerah!” ujar Mustajib, Communication Specialist USAID PRIORITAS.
Berdasarkan penelitian UNESCO tahun 2012, hanya 1 orang dari 1000 orang Indonesia yang memiliki minat baca. “Kita harus bersama-sama mengadvokasi agar masyarakat kita rajin membac. Ini merupakan tugas bersama karena dalam kitab suci kita juga diperintahkan untuk rajin membaca,” ujar Mustajib (17/02/2015). (Red)
Selain strategi pengadaan sarana prasarana baca, Strategi lainnya adalah menciptakan kegiatan membaca yang menarik bagi siswa. Beberapa sekolah seperti SDN 39 Kassi Maros mencanangkan 5 – 10 menit membaca sebelum pelajaran pagi dimulai. Sekolah SMP YP PGRI, membuat lomba tulisan resensi buku-buku yang telah dibaca. Sedangkan SDN 2 Unggulan Maros, anak-anak membuat cerita sendiri dari rangkaian buku cerita yang telah dibuatnya. Banyak sekolah sekarang ini mengembangkan strategi membaca senyap, yaitu semua warga sekolah tak terkecuali guru, orang tua dan pegawai, membaca buku dengan diam selama 30 menit.
“Budaya baca perlu dikembangkan karena ketrampilan literasi menentukan masa depan siswa. Semakin tinggi litersi siswa, semakin besar peluang masa depannya cerah!” ujar Mustajib, Communication Specialist USAID PRIORITAS.
Berdasarkan penelitian UNESCO tahun 2012, hanya 1 orang dari 1000 orang Indonesia yang memiliki minat baca. “Kita harus bersama-sama mengadvokasi agar masyarakat kita rajin membac. Ini merupakan tugas bersama karena dalam kitab suci kita juga diperintahkan untuk rajin membaca,” ujar Mustajib (17/02/2015). (Red)

No comments:
Post a Comment