Puspen
TNI (LawuNews) Setiap orang normal pasti bisa mendengar
tetapi mendengar menjadi sulit ketika seseorang hanya mau didengar dan tidak
mau mendengar serta membuka ruang dalam diri kita untuk memberikan kepada orang
lain menyampaikan apa yang dipikirkannya.
Masalah mendengar dan didengar bukanlah di telinga tetapi adanya di
hati. Demikian dikatakan Panglima TNI
Jenderal TNI Dr. Moeldoko ketika membuka kegiatan “Program TNI Mendengar” tahun 2015 dengan tema “Ketahanan di Bidang
Energi dengan Berbagai Permasalahan dan Solusinya”, di Aula Gatot Subroto,
Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur (12/3/2015).
Lebih lanjut
Jenderal TNI Moeldoko menyampaikan bahwa, hal yang sangat sulit dari mendengar
adalah ketika proses selanjutnya hanya berhenti pada mendengar belaka. Orang
mengerti apa yag didengar belum tentu memahaminya. Pemahaman memang memerlukan
kerja yang lebih dari seorang manusia selain melibatkan kecerdasan berpikir
juga melibatkan aspek kepribadian yang lain
dan orang yang telah melewati
proses pemahaman belum tentu juga mampu berempati dengan apa yang telah
dipahaminya. “Empati membutuhkan kepekaan dan kecerdasan emosi untuk berada di
pihak lain tanpa terjerumus di dalamnya dan yang ber-empatipun belum tentu
juga mampu untuk melakukan aksi dan
tindakan yang membutuhkan kemampuan yang lain yang lebih dari sekedar empati”,
ujarnya.
Sementara itu dalam
pemaparannya Dr. Abdul Muin (Pakar Migas) selaku narasumber, terkait kelangkaan
sumber energi di Indonesia mengatakan bahwa faktor fundamental sebagai penyebab
mengapa terjadi kondisi krisis Migas di Indonesia antara lain pertama,
selama beberapa dekade ini Indonesia tidak memiliki Kebijakan Pengelolaan Energi
Strategis yang komprehensif dan
terpadu; kedua, tidak adanya suatu Perencanaan Jangka Panjang yang
memadai, workable, konsisten
berkelanjutan dan berimbang dengan kepentingan publik lainnya; ketiga,
kebijakan dari berbagai departemen masih bersifat sektoral, terlalu
berorientasi kepada target jangka pendek, tumpang tindih dan lemah
koordinasinya; keempat, pengelolaan pelistrikan
yang relatif parah dimana pengadaan pembangkit listrik di masa lalu
dominan berbasiskan energi fosil yang “murah”; kelima, kebijakan untuk
menyiapkan “Spare Capacity” yang
memadai untuk mengamankan kebutuhan minyak dan gas untuk domestik dalam situasi
“emergency” masih terabaikan; keenam,
upaya
penghematan/efisiensi konsumsi energi, terutama BBM belum tersentuh
secara jelas; ketujuh, pengelolaan hasil/revenue dari sumber energi
Migas cenderung berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan rutin belanja negara
(APBN), sehingga alokasi dana bagi pengembangan infrastruktur dan kegiatan
eksplorasi relatif terabaikan cukup lama dan kedelapan, kebijakan fiskal juga cenderung untuk
lebih mengoptimalkan penerimaan negara (pajak) secara sektoral dalam jangka
pendek, sehingga tidak merangsang (kontra produktif) bagi pengembangan energi
alternatif jangka panjang yang berkesinambungan.
Selanjutnya
mengenai kegagalan kita dalam mengelola sumber daya alam, menurut Dr. Abdul
Muin mengutip dalam World Petroleum
Congress tahun 2008 adalah disebabkan oleh: korupsi, buruknya pengelolaan hasil penerimaan dari
Migas atau dikenal sebagai “Dutch Disease” serta tidak adanya azas pemerataan dan keadilan.
Terkait dengan tantangan, pemerintah mendatang di sektor energi
adalah pasokan minyak bumi & BBM yang
defisit, pasokan gas domestik yang terus meningkat juga akan terancam, kapasitas kilang penghasil BBM stagnan, beban subsidi BBM dan listrik yang terus meningkat, upaya diversifikasi
dan effisiensi BBM tersandera kebijakan subsidi BBM & listrik,
kondisi sektor listrik sudah “lampu merah”. Sementara tantangan utama tata
pengelolaan energi dan ketahanan energi di Indonesia saat ini adalah dinamika tata kelola politik &
pemerintahan kedepan, kualitas lembaga/institusi yang semakin menurun, sistim
multi partai (konflik kepentingan meningkat), otonomi daerah (high cost
economy), akselerasi pengurasan SDA, kepastian hokum, perencanaan, sistim pengendalian
dan pengawasan lemah.
Kemudian untuk mengantisipasi krisis Migas
kedepan, Dr. Abdul Muin membagi dalam jangka pendek-menengah, yaitu: mengamankan
proyek-proyek strategis Migas On-Going?, mendorong Pertamina untuk
merealisasikan potensi cadangan yang dimilikinya, optimalisasi pengelolaan sisa
cadangan Migas existing, akuisisi ladang Migas potensial overseas (khususnya
OPEC), memperbaiki tata kelola bisnis gas yang masih Timpang, optimalisasi koordinasi
stake holder yang terkait dalam menangani kendala-kendala eksternal, penataan
secara menyeluruh (Organisasi & Tata Kelola Proses Bisnis Migas) SKKMigas,
ESDM, dan BUMN terkait. Jangka menengah-panjang, yaitu: studi dan
evaluasi prospek dari cekungan-cekungan frontier yang belum di
eksplorasi, rangsangan kebijakan agar para investor Migas mau melakukan
eksplorasi di wilayah/cekungan baru serta kegiatan eksploitasi lanjut, pengembangan
potensi sumber daya non-konvensional, pengembangan energi alternatif secara
lebih serius dan upaya efisiensi energi harus ditangani dengan koordinasi yang
maksimal guna menahan laju konsumsi Migas kedepan.
Selanjutnya Panglima
TNI mengajak seluruh para Perwira yang hadir menuju kearah paradigma baru dalam
berkomunikasi. Paradigma lama yang dianut oleh TNI adalah lebih senang
memberikan direction satu arah dan sulit mendengarkan orang lain, oleh
karenanya harus membangun untuk lebih banyak mendengar dan banyak beraksi. Paradigma kedua bahwa
komunikasi dan informasi sekarang tidak bisa dikendalikan, tidak seperti jaman
dulu yang bisa diatur-atur.
Program TNI
Mendengar Tahun 2015 diikuti 200 orang Pamen terdiri dari 45 Pamen dari TNI AD,
40 Pamen TNI AL, 30 Pamen TNI AU, dan 85 Pamen dari Balakpus Mabes TNI serta
penanggap berjumlah 17 orang, antara lain; Bapak Gede Pradnyana (Sekjen SKK
Migas), Bapak Dirgo D. Purwo, Prof. Bambang B, Bapak Ujang Kuswara (Pembina
YPP), dan Ibu Maria (Perusahaan Oil & Gas). Kegiatan ini juga merupakan langkah untuk
mempererat hubungan silaturahmi antara TNI dengan seluruh elemen bangsa dan
sebagai upaya institusi TNI memberikan apresiasi serta pembekalan pentingnya
pengetahuan tentang kondisi dan peranan sumber energi serta kebutuhan energi
dalam mendukung ketahanan nasional saat ini.
Adapun tujuan
dilaksanakan kegiatan tersebut adalah memberikan pemahaman dan pandangan kepada
para Pamen dan Pati TNI agar dapat membantu dalam aplikasi pekerjaan sesuai
dengan tugas pokok masing-masing dalam mendukung program pemerintah. Sasaran penyelenggaraan Program TNI Mendengar
Tahun 2015 adalah tergugahnya daya inspiratif dan konspiratif para Pamen dan
Pati TNI di bidang energi serta mampu memberikan kontribusi yang konkrit kepada
pemerintah dan solusi yang terbaik dalam menghadapi kelangkaan energi yang
sedang dihadapi bangsa Indonesia dalam mengatasi kelangkaan energi untuk masa
yang akan datang.
Kegiatan yang
dipandu oleh moderator Bapak Sukardi Rinakit dan dimeriahkan oleh penyanyi keroncong/seniwati Endah Laras dari
Solo, Jawa Tengah juga dihadiri oleh Kasum TNI Marsdya TNI Dede Rusamsi, S.E.,
M.M., Koorsahli Panglima TNI Mayjen TNI Wisnu Bawa Tenaya, para Asisten
Panglima TNI, dan Kapuspen TNI Mayjen
TNI M. Fuad Basya.
Authentikasi :
Kadispenum Puspen TNI, Kolonel Inf
Bernardus Robert
No comments:
Post a Comment